Selasa, 21 April 2015

sometimes I just wanna be a stranger :)

Aku terlelap di halaman tengah buku puisi
diantara aroma khas kertas yang sebelumnya adalah ayah sebuah pohon.
aku selalu merindukan aroma ini, aroma yang berbekas legam di ingatanku
aroma yang seringkali kunomor satukan dalam daftar belanja bulanan
Aku menamainya aroma buku baru.

Aku masih terlelap ketika seseorang memutarkan lagu klasik
Lagu yang memaksa mataku mendongkak meninggalkan kantuk yang meraja
bukan karena volume radio yang seperti hendak memecahkan gendang telinga
bukan pula karena suara lirih penyanyi nya yang indah dan menggoda
Suara yang masih selalu dinikmati meski raganya tak lagi di Bumi  

Aku ingat lagu itu pernah kau nyanyikan pada sebuah acara porseni di sekolah,
aku tak pernah lupa, iyaa kala itu kita masih belia, kita bocah yang berlagak dewasa
sehingga dengan cerobohnya kita menyimpulkan sebuah rasa kemudian menamainya cinta.

Kau tahu di halaman tengah buku yang beraroma buku baru itu aku menemukan sepotong sajak
" Aku mencintaimu dan kaupun mencintaiku meskipun tidak setiap waktu"
pada sajak ini aku berhenti, seketika aku menyelami dahulu, hingga lelapku beradu  dimatamu

Aku benci menjadi bayi kecil dipangkuan masa lalu
aku tak pernah suka dimanjakan kenangan
mungkin kamu juga begitu, kenangan kadang menjadi robot yang kaku
akupun tak suka kita sekaku robot, walau sebenanrnya kita adalah robot
aku yang sama, kau yang sama, jiwa yang sama, hari yang sama, dunia yang sama
yaaah.. kita adalah robot yang sama.

Di penghujung malam kala itu, sebagian orang senang menyebutnya dini hari 
saat yang paling tepat untuk mengatakan selamat tinggal
seperti pohon yang menunggu angin mematahkan rantingnnya
aku tak pernah sanggup mengucapkan kalimat singkat itu
di sebuah buku puisi yang lain "Sapardi djoko Damono" mengatakan bahwa
"Kau tak perlu membedakan selamat datang dan selamat tinggal sebab keduanya tersirat dalam lambaian tangan "
Apa kau tauu,jangankan melambaikan tangan bahkan jemariku tak sanggup kugerakkan

Di ujung bibir pantai kala itu, ketika bibirku tak sanggup melepaskan kecupan bibirmu
kita seperti bulan purnama yang malu-malu,lagi dan lagi rasa yang ceroboh yang kita simpulkan sebagai cinta menjadi alasan untuk tak saling berjarak.
bayanganmu terlalu memukau, sekali lagi aku tak sanggup mengatakan selamat tinggal.

Setiap belukar yang dulu kita lewati, setiap jalan yang pernah kita tapaki
setidaknya adalah kebahagiaan ketika rasa yang ceroboh itu menyeruak dibatin kita
bahkan setangkai mawar yang kau berikan pada suatu hari yang mereka sebut hari kasih sayang
saat itu aku adalah langit dan bunga- bunga yang tak mampu menyamar dengan berubah warna.

terkadang aku hanya ingin menjadi orang asing bagimu
orang yang tak setiap saat akan kau ingat atau kau tatap
seperti poster pahlawan di dinding sekolah yang dipuja lalu di lupa.

The ghost of you _  Michael learns to rock menemaniku malam ini :)









Tidak ada komentar:

Posting Komentar